15/06/2017
Pengetahuan Perp**aan
Jenis P**a :
Dari sekian jenis pembuatan p**a secara umum dapat dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu :
1. Jenis p**a tanpa sambungan (pembuatan p**a tanpa sambungan pengelasan)
2. Jenis p**a dengan sambungan (pembuatan p**a dengan pengelasan)
Bahan-bahan p**a secara umum :
Bahan-bahan p**a yg dimaksud disini adalah struktur bahan baru p**a tersebut yg dapat dibagi secara umum sebagai berikut:
1. Carbon steel
2. Carbon Moly
3. Galvanees
4. Ferro Nikel
5. Stainless Steel
6. PVC (Paralon)
7. Chrom Moly
Sedang bahan-bahan p**a secara khusus dapat dikelompokkan sebagai berikut :
1. Vibre Glass
2. Aluminium (Aluminium)
3. Wrought Iron (besi tanpa tempa)
4. Cooper (Tembaga)
5. Red Brass (kuningan merah)
6. Nickel cooper = Monel ( timah tembaga)
7. Nickel chrom iron = inconel (besi timah chrom)
Komponen perp**aan :
Komponen perp**aan harus dibuat berdasarkan spesifikasi standar yg terdaftar dalam simbol dan kode yg telah dibuat atau dipilih sebelumnya.
Komponen perp**aan yg dimaksud disini meliputi :
1. Pipes (p**a-p**a)
2. Flanges ( flens-flens)
3. Fittings (sambungan)
4. Valves (katup-katup)
5. Boltings (baut-baut)
6. Gasket
7. Specials items
Pemilihan bahan :
Pemilihan bahan perp**aan haruslah disesuaikan dengan pembuatan teknik perp**aan dan hal ini dapat dilihat pada ASTM serta ANSI dalam pembagian sebagai berikut
1. Perp**aan untuk pembangkit tenaga
2. Perp**aan untuk industri bahan migas
3. Perp**aan untuk penyulingan minyak mentah
4. Perp**aan untuk pengangkutan minyak
5. Perp**aan untuk proses pendinginan
6. Perp**aan untuk tenaga nuklir
7. Perp**aan untuk distribusi dan transmisi gas
Selain dari penggunaan instalasi atau konstruksi seperti diterangkan diatas perlu p**a diketahui Jenis aliran temperatur, sifat korosi, Faktor gaya serta kebutuhan lainnya dari aliran serta p**anya.
Macam Sambungan Perp**aan :
Sambungan perp**aan dapat dikelompokkan sebagai berikut :
1. Sambungan dengan menggunakan pengelasan
2. Sambungan dengan menggunakan ulir
Selain sambungan seperti diatas terdapat p**a penyambungan khusus dengan menggunakan pengeleman (perekatan) serta pengkleman (untuk p**a plsatik dan p**a vibre glass).
Pada pengilangan umumnya p**a bertekanan rendah dan p**a dibawah 2" sajalah yg menggunakan sambungan ulir.
Tipe sambungan cabang:
Tipe sambungan cabang (branch connection)dapat dikelompokkan sbb:
1. Sambungan langsung (stub in)
2. Sambungan dengan menggunakan fittings (alat penyambung)
3. Sambungan dengan menggunakan fl**ges (flens-flens)
Tipe sambungan cabang dapat p**a ditentukan pada spesifikasi yg telah dibuat sebelum mendesain atau dapat p**a dihitung berdasarkan perhitungan kekuatan, kebutuhan, dengan tidak melupakan faktor efektifitasnya. Sambungan cabang itu sendiri merupakan sambungan antara p**a dengan p**a, misal sambungan antara header dengan cabang yg lain apakah memerlukan alat bantu penyambung lainnya atau dapat dihubungkan secara langsung, hal ini tergantung kebutuhan serta perhitungan kekuatan.
Diameter, Ketebalan, Schedule :
Spesifikasi umum dapat dilihat pada ASTM (American Society of Testing Materials).Dimana disitu diterangkan mengenai Diameter, Ketebalan serta schedule p**a. Diameter Luar (Outside Diameter), ditetapkan sama walaupun ketebalan (thickness)berbeda untuk tiap schedule. Diameter dalam (Inside Diameter), ditetapkan berbeda untuk setiap schedule. Diameter Nominal adalah diameter p**a yg dipilih untuk pemasangan ataupun perdagangan (commodity). Ketebalan dan schedule, sangatlah berhubungan, hal ini karena ketebalan p**a tergantung daripada schedule p**a itu sendiri.
Schedule p**a ini dapat dikelompokkan sebagai berikut :
1. Schedule 5, 10 , 20, 30, 40, 60, 80, 100, 120, 160.
2. Schedule standard
3. Schedule Extra strong (XS)
4. Schedule double Extra Strong (XXS)
5. Schedule special
Perbedaan-perbedaan schedule ini dibuat guna :
1. Menahan internal pressure dari aliran
2. Kekuatan dari material itu sendiri (Strength of material)
3. Mengatasi karat
4. Mengatasi kegetasan p**a.
Untuk melihat ukuran diameter, ketebalan, dan schedule dapat dipelajari tabel-tabel
Alat-alat khusus:
Alat-alat khusus dalam bab ini hanya membicarakan mengenai saringan (strainer) dan alat perangkap uap (steam Trap)
Saringan (strainer)
saringan (strainer) gunanya adalah sebagai alat penyaring kotoran baik yg berupa padat, cair atau gas. Alat penyaring ini digunakan pada jalur p**a guna menyaring kotoran pada aliran sehingga aliaran yg akan diproses atau hasil proses lebih baik mutunya.
Tipe-tipe alat penyaring ini dapat dibagi menjadi :
1. Tipe T. Tipe ini digunakan secara umum untuk memperluas ruang dan meredusir tekanan pada jalur p**a
2. Tipe Y
3. Tipe sementara
4. Tipe datar
Perangkap Uap (steam Trap):
Steam Trap merupakan alat yg digunakan untuk menyingkirkan air dari uap, dimana air ini tidak ada gunaya bahkan akan memberikan hambatan pada aliran uap atau dapat menimbulkan kerugian lainnya. Perangkap uap ini ditempatkan pada tempat terendah dari suatu jalur perp**aan atau dipasang pada kantung p**a yg disebut Drip Leg
Cara Kerja:
1. Steam Trap pada daerah jalur p**a yg terendah dimana disitu dianggap air mungkin telah menggantungkan pada kantung p**a (Drip Leg)
2. Steam trap ini akan mengosongkan air ke sistem uap yg mempunyai tekanan lebih rendah
3. Sistem perangkap yg tertutup didalam pengosongan air menggunakan katup-katup pada sisi perangkap tersebut.
4. Gunakan saringan seandainya sistem perangkap ini belum menggunakannya. Pasang katup uji untuk pembuangannya selama pengetesan aliran (start up).
VENT dan DRAIN
Vent adalah suatu alat pembuangan gas, udara atau uap air. sedangkan drain adalah suatu alat pembuangan zat cair. Pada sistem pembuangan yg terdapat pada p**a atau equipment, Vent dan Drain dalam cara kerjanya dapat dibagi dua bagian yaitu : bekerja dan tidak bekerja.
Untuk Vent dan Drain yg dikelompokkan bekerja, dimaksudkan bahwa peralatan ini digunakan pada p**a atau equipment dalam keadaan bekerja dalam jangka waktu lama atau terus menerus. Vent dan Drain dikelompokkan tidak bekerja hanya digunakan pada waktu tertentu saja, misalnya pada saat pengetesan, start up atau shut down. Untuk Vent dan Drain pemasangannya haruslah disetujui piping engineering group terlebih dahulu, baik mengenai pemakaiannya maupun penempatannya. Selain itu harus p**a diperhatikan pemasangan sumbat pada katupnya seperti plug atau blind fl**ge.
Untuk hal yg khusus yaitu aliran yg mempunyai tingkat bahaya tinggi, penempatannya dan penggunaannya harus benar-benar diperhitungkan serta dikontrol pelaksanaannya.
Cara Penempatan Lokasi Vent dan Drain
Penempatan vent dan drain haruslah benar-benar diperhitungkan sehingga penggunaannya benar-benar efektif serta aman. Jangan sampai pemasangan vent dan
drain ini terbalik, akan hal ini akan berakibat fatal, misalnya untuk aliran beracun atau mudah terbakar.
Penempatan vent pada p**a atau equipment diusahakan pada tempat yg paling tinggi karena fungsinya sebagai pembuangan ke udara. Begitu p**a pada penempatan drain haruslah pada tempat yg rendah sesuai fungsinya sebagai pembuangan cairan atau pembersihan cairan serta pembuangan kotoran pada jalur p**a atau equipment.
Jenis-Jenis, komponen dan perlengkapan
Jenis-jenis p**a, hose dan cubing pada dasarnya terdiri dari :
1. Spiral welding pipe (p**a las spiral)
2. SMLS pipe (p**a tanpa sambungan)
3. Welded Pipe
4. SAW pipe
5. FBW pipe
6. C & W pipe
7. EFW pipe
8. ERW pipe
9. Lined Pipe
10. Hose
11. Tubing (cubing)
12. Pipe Niple (p**a nipel)
Jenis-jenis flens (fl**ges) terdiri dari :
1. Blind fl**ge (flens buta)
2. Weld neck fl**ge (flens las di leher)
3. Weld neck or***ce fl**ge (flens orifis las di leher)
4. Slip on fl**ge (fl**ge sambungan langsung)
5. So. red fl**ge (flens memperkecil sambungan sock)
6. SW red fl**ge ( flens memperkecil sambungan sock di las)
7. Socket weld fl**ge (flens sambungan sock di las)
8. Threaded fl**ge (flens sambungan ulir)
9. Stub fl**ge ( flens tonggak)
10. ST red fl**ge (flens memperkecil ST)
11. LPA joint fl**ge (flens sambungan LPA)
12. Socket type fl**ge( fl**ge tipe sock)
13. Weld neck red fl**ge (flens memperkecil las dileher)
Jenis-jenis katup :
1. Gate Valve (katup pintu)= Fungsi untuk membuka & menutup sepenuhnya
2. Ball valve (katup bola)= Fungsi untuk membuka & menutup dan mangatur aliran
fluida secara lebih cepat
3. Globe valve (katup dunia) = Fungsi untuk mengatur besar kecilnya aliran & tekanan
4. Check Valve (katup cek)= Fungsi untuk mencegah aliran ke satu arah saja
5. Butterfly valve (katup kupu-kupu)= Fungsi untuk membuka & menutup aliran lebih
cepat
6. Diaphragma valve (katup diaphragma)= Fungsi untuk membuka & menutup dengan
diaphragma
7. Knife gate valve (katup pintu pisau)
8. Needle valve (katup jarum)
9. Plug valve (katup sumbat)
10. Wafer check valve (katup cek wafer)
Jenis-jenis alat penyambung :
pada dasarnya alat penyambung ini dikelompokkan dalam dua bagian :
A. Sambungan dengan pengelasan
B. Sambungan yg dilakukan dengan ulir
A. Jenis sambungan dengan pengelasan :
1. 45 derajat elbow
2. 90 derajat elbow
3. 180 derajat elbow
4. Concentric reducer (pemerkecil sepusat)
5. Eccentric reducer ( pemerkecil tak sepusat)
6. Tee
7. Cross (silang)
8. Cap (tutup)
9. Red Tee (pemerkecil tee)
10. Swage concentric BSE (sweg sepusat ujung bevel)
11. Swage eccentric (sweg tak sepusat ujung bevel)
B. Jenis sambungan dengan ulir
1. Bushing (paking)
2. Cap (tutup)
3. Coupling
4. Red coupling (kopling pemerkecil)
5. 45 derajat elbow
6. 95 derajat elbow
7. 45 derajat lateral
8. Reducer (pemerkecil)
9. Tee
10. Red Tee
11. Cross (silang)
12. Plug (sumbat)
13. Union
14. Swage concentric (sweg sepusat)
15. Swage eccentric (sweg tak sepusat)
Jenis alat sambungan cubing
1. Male adapter (jantan)
2. Female adapter(betina)
3. Cap (tutup)
4. Male connection
5. Female connection
6. Plug (sumbat)
7. Male bulkhead (jantan kepala banyak)
8. Female bulkhead (betina kepala banyak)
9. 90 derajat union elbow (siku union 90 derajat)
10. Male 90 derajat elbow
11. Female 90 derajat elbow
12. Reducer (pemerkecil)
13. Insert (penyisip)
14. Union(union)
15. Union Tee
16. Red union (union pemerkecil)
17. Union cross
Jenis-jenis alat sambungan cabang berupa olet :
1. Elbowlet (letakan siku)
2. Latrolet (olet lateral)
3. Sweepolet (olet corong)
4. Sockolet (olet sock)
5. Threadolet (olet ulir)
6. weldolet (olet las)
Jenis-jenis perlengkapan khusus :
1. Spectacle blind (kacamata buta satu)
2. Blind and spacer (buta dan penjarak)
3. Line blind (buta jalur)
4. Spacer (penjarak)
5. Expantion joint
6. Hose connection
7. Swivel joint (sambungan swivel)
8. Steam Trap (perangkap uap)
9. Strainer (saringan)
10. Safety shower (pancuran pengaman)
11. Inline mixer (pengaduk dalam)
12. Exhaust head (kepala pembuangan)
13. Instruments
Jenis Gasket
1. Ring gasket
2. Oval ring gasket
3. Full face gasket
4. Flat ring gasket
5. Spiral gasket
Jenis bolt
1. Machine bolt (baut mesin)
2. Stud bolt (baut paku)
3. Cap screw (ulir penutup)
SISTEM PERP**AAN DAN DETAIL
Pada dasarnya sistem p**a dan detail untuk setiap industri atau pengilangan tidaklah jauh berbeda, perbedaan-perbedaan mungkin terjadi hanya pada kondisi khusus atau batasan tertentu yg diminta pada setiap proyek.
Pabrikasi p**a dapat dilakukan pada bengkel-bengkel di lapangan atau pada suatu pembuatan p**a khusus di suatu tempat lalu dikirim kelapangan, baik melalui transportasi laut atau darat, sehingga dilapangan hanya merupakan penyambungan saja. Hal ini menguntungkan dari segi waktu, ongkos kerja dan pekerjaan dilapangan. Pemilihan keputusan untuk pabrikasi p**a di suatu bengkel dilapangan atau di suatu tempat di luar lapangan bahkan dinegara lain, memerlukan perhitungan teknis dan ekonomis secara cermat.
Pemasangan pekerjaan perp**aan dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian sbb:
1. P**a diatas tanah
2. P**a dibawah tanah
3. P**a dibawah air ( didalam air)
Pemasangan sistem perp**aan diketiga tempat ini baik p**a proses ,p**a utiliti mempunyai permasalahan masing-masing dan dalam buku ini hanya akan disinggung butir satu dua.
PEMASANGAN P**A DI ATAS TANAH
Pemasangan ini dapat dilakukan pada rak p**a (pipe Rack), diatas penyangga penyangga p**a, atau diatas dudukan p**a (sleeper). Pada pemasangan p**a diatas tanah ini dapat p**a dimasukkan p**a peralatan (equipment) yaitu yg meliputi p**a kolom dan vesel, p**a exchanger, p**a p***a dan turbin, p**a kompressor dan p**a utilitas. berikut akan dijelaskan sebagai berikut :
P**a Kolom dan Vesel
P**a yg akan dipasang pada kolom dan vesel harus ditempatkan secara radial disekitar kolom di bagian jalur p**a, jalan orang, platform dibagian access. Untuk p**a 18" keatas bisa langsung dilas ke vesel, kecuali pertimbangan pemeliharaan dan akan digunakan sambungan fl**ge. Sambungan dalam skirt tidak boleh ditempatkan katup atau fl**ge. Penggunaan vent atmosferis berkatup dan bertudung harus disediakan pada tempat lokasi titik tertinggi dari vessel atau jalur p**a diatasnya, sedangkan drain dipasang pada tempat lokasi terendah yg akan ditentukan oleh P&ID.
Katup pelepas tekanan yg membuang kedalam sistem blowdown tertutup harus ditinggikan guna memungkinkan bagian pengeluaran pengaliran sendiri ke dalam sistem blowdown. Katup pelepas tekanan yg membuang uap ke udara bebas harus dilengkapi dengan p**a paling sedikit tiga meter diatas setiap platform dalam radius 7.5 meter, juga disediakan lubang pembuangan yg besarnya 6 mm(1/4") dibawah p**a guna mencegah akumulasi cairan.
P**a Exchanger
Pemasangan p**a pada exhcanger tidak boleh dipasang diatas daerah-daerah kanal, tutup shell dan fasilitas fasilitas lain yg telah terpasang pada exchanger atau handling yg s**a digunakan. Ruang-ruang bebas untuk pemasangan fl**ge exchanger harus disediakan. Spool dipasang diluar nozzle kapal guna memungkinkan pemindahan bundel p**a exchanger.
P**a P***a Dan Turbin
P**a suction atau p**a yg mengalirkan aliran disebut juga p**a hisap harus diatur sedemikian rupa guna mencegah penurunan tekanan dan kantung uap yg dapat p**a menimbulkan kavitasi pada impeler. Apabila perubahan ukuran diperlukan untuk mempercepat atau memperlambat aliran, maka reduser eksentris harus dipakai bilaman kantung tanpa vent tak dapat dihindari. Pemasangan p**a pada p***a dan turbin harus diatur sedemikian rupa, sehingga mudah untuk perawatan dan perbaikan. Hal ini penting untuk mencegah pembongkaran besar yg tak perlu pada pemeliharaan dan perbaikan p**a. Saringan permanen dan sementara harus disediakan pada inlet p***a dan turbin. Sedangkan untuk aliran panas dan dingin harus diperhatikan fleksibilitasnya, begitu p**a kedudukan-kedudukan penyangga haruslah baik dan dapat mengatasi getaran-getaran yg diakibatkan motor p**a serta aliran.
P**a Kompresor
Pemasangan p**a pada kompresor harus diatur perbaikan dan pemeliharaannya. Sambungan p**a dengan menggunakan fl**ges lebih diutamakan demi memperlancar jalannya perbaikan dan pemeliharaan. P**a hisap (suction) dan buang (discharge) harus benar-benar diperhatikan fleksibilitasnya, terutama untuk temperatur rendah atau tinggi atau tekanan tinggi. Masalah getaran termasuk bagian terpenting pada p**a kompresor ini, akibat adanya beban dinamis yg berhubungan dengan kompresor ini. Karena itu masalah penyangga, guide dan anchor juga harus menjadi perhatianbagian perencana teknik.
P**a Utilitas
Pemasangan p**a utilitas ini harus benar-benar direncanakan sehingga kebutuhan utilitas di proyek dapat terjangkau penggunaanya. P**a utilitas seperti apa yg lain haruslah direncanakan beroperasi pada temperatur dan tekanan berapa. Perencanaan sub header haruslah dapat memenuhi daerah equipment proses atau kelompok peralatan lainnya yg memerlukan jalur utilitas. Sambungan cabang haruslah dibuat dari atas header. Apabila aliran utilitas berupa uap jangan lupa membuat kantung kantung uap pada setiap daerah titik terendah dimana aliran akan mendaki dan diperhitungkan tidak boleh lebih dari 40% tekanannya dalam jarak yg dihitung dalam feet.
-------------------------------------------------------------------------------
PIPELINE SAFETY REGULATIONS
Published for Petroenergy Magazine Edition May-June 2008
–
Gas supply and demand gap between gas consumer region (Java) and gas source region (Sumatera, Kalimantan) leads to the expanding of Indonesia gas distribution system (Petroenergy No. 7 Year IV). Existing aging pipeline both upstream and downstream and the new gas distribution system will create a higher risk exposure to the overall Indonesia pipeline system. Significant accidents to pipelines onshore and offshore in recent years should be regarded as a momentum to develop more comprehensive pipeline safety regulation (Ref). A comprehensive pipeline safety regulation surely is one important legislative tool to ensure productivity assurance in oil and gas production and distribution.
Existing Indonesia Pipeline Safety Regulation
Indonesia oil and gas safety is ruled under Act 22 of 2001 concerning Oil and Gas in Article 40. Specifically for pipeline, safety is ruled under Ministerial Instruction (Keputusan Menteri) No. 300/38/M/1997. The later regulation is already provide several basis for pipeline safety but there are other important elements of pipeline safety still not covered. Pipeline constructor and operator adopted technical regulation provided in several pipeline codes and guidelines (ASME B31 series, API, DNV, etc).
-
Pipeline Safety Regulation from Other Countries
Pipeline regulations that reviewed are from United States (49 CFR 192, 195), United Kingdom (IGE/TD/1), Canada (Z662-94), Australia (AS2885-1987), Germany (TrbF 301, 302), and Japan (Tsusho Sangyo Roppo). Sections that commonly addressed in above mentioned pipeline safety regulations are:
1. Class Location
Pipeline right of way classified into class location according to their failure
consequence. Classification of pipeline location in pipeline safety regulations generally by pop**ation densities, the proximity of pipelines to public building, and pipe diameter.
2. Material Qualification
The section prescribes general requirements for the selection and qualification of materials for pipeline (steel and non-steel).
3. Pipeline and Pipeline Component Design
Minimum requirements for the design of pipe are prescribed. Design parameter ruled in this sections are: nominal wall thickness, design factor versus class location, longitudinal joint factor, temperature derating, and design limitations of plastic pipe. Pipeline component prescribed by the regulations are: valves, fittings, passage of internal inspection device, supports and anchors, and compressors station.
4. Pipeline Construction
Construction issues ruled are welding of steel pipes or joining method other than welding, transmission lines and mains, structural protection (casing and cover), and underground clearance.
5. Pipeline Corrosion Protection
This section prescribes minimum requirements for the protection of metallic pipelines from external, internal, and atmospheric corrosion. Corrosion protection system parameter by coating or cathodic protection ruled are: coating requirements, and cathodic protection requirements.
6. Pipeline Operation and Maintenance
Operational issues prescribed in this section are: requirements for procedure manual for operation, maintenance, emergency, and personnel qualification which includes:
- Change in class location;
- Public awareness;
- Failure investigation;
- Leakage survey;
- Repair method;
- Inspection and testing;
- Valves and other pipeline components inspection;
7. Pipeline Integrity Management
This section prescribed identification high consequence area (HCA) and integrity assessment method (internal inspection, direct assessment, and re-assessment interval).
Specific aspects addressed in foreign pipeline regulations:
- Design life
In Australia Regulation, at the end of design life, the pipeline is abandoned unless an operator directed approved engineering investigation determines that its continued is safe.
- Third Party Factor
Australian standard has more detailed concept of third party damage including recommended practice to protect pipeline from third party damage.
- Fatigue life
British regulation has a section for requirement of pipeline fatigue strength in cyclic loads;
- Geohazard Issues
Onshore geohazard issues (e.g. earthquake) are prescribed in Japanese Standard.
Technical Basis for Pipeline Safety Regulation
Foreign pipeline safety regulation mentioned before are governed by several technical documents that commonly utilized as code and standards in respective disciplines like follows:
- Material Selection: API 5L series, ASTM, Plastic Pipe Institute;
- Pipeline Design: ASME B16 Series, ASME 31.8, ASME B&PV Codes;
- Pipeline Fabrication and Construction: API 1104, ASME B&PV Codes;
- Pipeline Protection: NACE Cathodic Protection Standards; and
- Pipeline Integrity: API and ASME Pipeline Integrity Standards;
Drilling Mud